July 11th, 2008
Beberapa kali kami harus melewati
Pernah pada kesempatan lain Aku dan Arik dikecohkan jalan-jalan ini. Hari itu aku dan dia sedang mengikuti UAS ketika SMS panggilan operasi kami terima bersamaan. Aku paham ketika dia mencoba kontak dengan hanya menoleh ke arahku, segera kami menyerahkan soal dan jawaban ke meja dosen (sedapetnya… :P). Presentasi kami wakilkan ke beberapa teman untuk mata kuliah berikutnya. Perjalanan bis ke markas ternyata memakan waktu lebih lama dari yang kami kira. Sehingga ketika kami tiba, gajah putih dan semua personil sudah berangkat ke lokasi. Tidak ada harapan lagi untuk ikut bergabung dalam operasi kali ini. Tapi tunggu dulu, Arik mengingatkan kami dengan segera kalo motor Lik Wito pasti ditinggal di gudang. Honda CB100! Kenapa tidak ? meskipun motor tua itu sudah butut se butut-bututnya dengan membulatkan tekad kami memakai motor itu tanpa seijin Lik Wito. Ijin ga bakalan dikasih, bukan karena pelit atau sayang pada motor itu tapi karena kondisi motor itu tidak memungkinkan untuk perjalanan lebih jauh dari 5 km. Sedangkan Solo ke kedung ombo di titik terdekat saja mencapai 60 Km.
Dengan berbekal alamat desa terdekat ke lokasi kejadian, akhirnya kami berangkat juga setelah ngutang bensin 3 liter di rombong rokok depan markas. berbekal ‘terbatas’ kami ‘berhasil’ keluar dari Solo. Begitu memasuki Sragen hujan deras mengguyur jalanan, untung kami diselamatkan raincoat. Kami masih bisa melaju tanpa harus menunggu hujan berhenti (kami ketahui selanjutnya hujan itu juga membuat mesin motor tahan lama). Motor itu kami paksa basah, meskipun khawatir juga kalau2 mesinnya ngadat kemasukan air. Arik punya solusi untuk ini, dari pada motor mogok mending kita yang basah… solusi ? ini sih namanya bunuh diri.
Dasar Arik buru2 mau denger protesku, malah nyengir kegirangan karena hujan2, sejurus kemudian raincoatnya sudah berpindah pada motor butut itu. Dengan pandangan tanpa dosa dia memandangku tersenyum kecut. Terpaksa aku lepas mantolku untuk kami berdua. Mantol ini tak banyak melindungi kami dari hujan, sehingga kami putuskan untuk dipakaikan ke motor ketika kami berhenti untuk yang kedua kalinya saat memastikan arah jalan yang kami ambil benar menuju lokasi kejadian. Malah beberapa tukang ojek itu juga telah mendengar berita musibah tenggelamnya seorang bapak dan 2 orang anak putra-putrinya. Semangat kami bangkit lagi setiap kali mendengar orang2 yang kami tanyai menjawab “iya mas bener jalannya, sebentar lagi sampai. sudah dekat kok.” Sementara hujan semakin deras saja, bukan kami yang mengkhawatirkan tapi motor itu, masih sanggup tidak? Kami tidak berani mematikan mesin saat berhenti bertanya. Kalau ga mau hidup lagi ? gawat. Ini adalah ke
Motor itu kami biarkan telentang dijalan, sudah berbuat apa dia hingga kami sia-siakan benar, setelah jauh menahan terbatuk-batuk namun akhirnya hanya menghempaskan kami di sini!? Bukankah itu kejam juga? Jadi biar saja dia istirahat sejenak di
Tiba-tiba Arik mengeluarkan pepaya yang aku tidak tahu dia dapat dari mana.. jarinya menunjuk pohon pepaya yang sepertinya masih memiliki beberapa lagi buah yang menguning diatas. Pepaya itu rupanya telah jatuh karena matang, dan Arik menemukannya saat jatuh tadi..Mungkin sudah masuk waktu maghrib ketika kami menghabiskan 3 buah pepaya berdua. Aku mencoba menyalakan motor dari bebatuan jalan bukan lagi jalan berbatu, tapi memang bebatuan yang menyerupai jalan. Motor itu ternyata belum butut2 amat, dan tua hanyalah untuk namanya, semangatnya hampir dapat menyamai kami. Tanpa ragu lagi kami pun melanjutkan perjalanan. Energi pepaya itu mengembalikan hangat tubuh kami, sepanjang sisa perjalanan Arix bernyanyi riang (menurutnya) menurutku tak lebih dari lutung minta kawin……..
tak bisa aku sampaikan lagi apa yang kami dapatkan ketika menjumpai gajah putih dengan 6 personel di sebuah rumah desa yang di gunakan nelayan merapat dan beristirahat. Apalagi si pemilik motor. Lik Wito marahnya tertahan oleh sesuatu yang kami tidak tahu, setelah berganti baju hidangan sedap disiapkan untuk kami… nasi bungkus + mujaher goreng + sambel + krupuk + kehangatan sahabat + cerita Arik yang di lebih-lebihkan tentang kehebatan Motor itu… dan ..

